Pondok Pesantren Bali Bina Insani dalam perjalanannya selalu menorehkan kisah al dengan sejarah yang inspiratif dan sangat menarik. Drs. H. Ktut Imaduddin Djamal, SH, MM selaku Mudirul Ma’had selalu mendorong para pengasuh untuk selalu menjadi penuh kejutan kebaikan. Beliau yang juga menjabat sebagai Kepala Kantor Pengadilan Negeri di Denpasar, tidak pernah berhentli memotivasi dengan kerja kerasnya. Salah satunya adalah tatkala Tim dari DR. I Gusti Ngurah Arya Wedakarna yang terkenal dengan AWK sebagai anggota DPD RI anggota Komite III dan Badan Kerjasama Parlemen mengajukan keinginan beliau untuk berkunjung, langsung diterima dengan pelbagai pertanyaan.

Tokoh politik muda yang cukup kontroversial ini melakukan kunjungan kerja dalam masa resesnya menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah. Setelah melayang surat by email dan Mudirul Ma’had menerima permohonan tersebut. Dialog antara Mudir dan tim memutuskan perubahan hari dan tanggal kunjungan, yang awalnya diajukan kunjungan pada hari Jum’at 12 Agustus 2016 menjadi hari Rabu tanggal 10 Agustus 2016. Undangan partiisipasi kehadiran disampaikan pula kepada Ibu Bupati Tabanan, Bapak Dandim Tabanan, Bapak Kapolres Tabanan, Ketua MUI Tabanan, Kepala Seksi Pendidikan Islam Kementrian Agama Kabupaten Tabanan, Bapak Camat Kecamatan Kerambitan, Bapak Kapolsek Kerambitan, Bapak Danramil Kerambitan, Bapak Kepala Desa Meliling, Bapak Kepala Adat Desa Meliling, Ketua Yayasan La-Royba Bali Bina Insani H Hasan Aeni, MBA, seluruh jajaran pengurus yayasan, pengurus Pondok Pesantren Bali Bina Insani, Kepala MTs, Kepala MA, Kepala Madin, Kepala Panti, seluruh dewan guru dan staf madrasah. Ruang kelas berkapasitas 45 orang penuh dengan para pengurus dan simpatisan Pondok Pesantren Bali Bina Insani. Turut hadir di dalamnya adalah Ketua IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) provinsi Bali Ir H Maman Supratman, Forum Semeton Muslim Bali, Alumni aktifis HMI dan lain sebagainya.

Piagam Bali Bina Insani Meliling Tabanan Bali

Jam 08.30 Arya Wedakarna hadir dengan pengawalan sederhana dan tim staf ahlinya, langsung diajak oleh Mudirul Ma’had beserta Ketua Yayasan untuk meninjau gedung asrama putri Bali Bina Insani yang belum selesai dibangun, setelah proses hampir dua bulan melewati ramadhan. Setelah meninjau gedung asrama maka beliau meminta untuk melihat perpustakaan. Cukup lama yang bersangkutan berdialog dengan Mudirul Ma’had berkaitan dengan perpustakaan. Dikarenakan skedul yang ketat, maka rombongan tour de pondok langsung menuju ruang pertemuan yaitu di ruang kelas 7C, sebagai ruang pengganti aula yang memang belum Pondok maupun madrasah miliki. Pak Wedakarna demikian yang bersangkutan memanggil dirinya saat memberikan sambutan dan jawaban dalam acara dialog interaktif, menyampaikan beberapa hal berkaitan dengan tugasnya yaitu Umroh dan Haji serta perpustakaan, di antaranya adalah telah membuatkan rekomendasi kepada rombongan haji untuk dilepas oleh kepala daerah masing-masing, mengajukan secara langsung akan penambahan kuota haji bagi dareah minor muslimnya kepada Bapak Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin. Sedangkan dalam sambutannya, Mudirul Ma’had menyampaikan tentang sejarah yang telah ditorehkan oleh Pondok Pesantren Bali Bina Insani ini, di antaranya adalah: adanya guru-guru Hindu sejak perjuangan awal pondok Pesantren dan madrasah secara resmi, di antaranya adalah Bapak I Nyoman Neser asal desa Timpag, I Made Dusak asal Tabanan. Konsep Tasammuh atau menyama braya sudah dilakukan dari awal perjuangan sekitar tahun 1997an. Dialog semakin mengangatkan suasana, namun karena keterbatasan waktu, maka acara ditutup pada pukul 10.05 wita dengan penyerahan plakat, buku kerukunan antar umat beragama, Sejarah Nabi Muhammad saw.

Momen terbaik tersebut juga diakhiri dengan penanda tanganan PIAGAM BALI BINA INSANI MELILING yang ditanda tangani oleh Mudirul Ma’had dan Senator Indonesia tersebut. Semoga momen tersebut dijadikan Allah swt sebagai titik perbaikan kebaikan dalam membangun kebersamaan yang indah di Bali. (Yusaba)

SHARE
Cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Bali Bina Insani tanggal 27 Oktober 1996 adalah berawal dari pendirian Pondok Yatama tanggal 27 Oktober 1991. Sejak pemuda bernama Ketut Imaduddin Djamal masuk di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathon Seloong Lombok Timur tahun 1968, jiwa pondok pesantren mulai tersemai. Hal ini lebih terasa sejak belajar di Pondok Pesantren Assyafi`iyah Jakarta tahun 1977 dan sering silaturahmi ke Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY